Kronologis malam minggu 20des2008:
malam itu bayu prasetyo bertandang ke kediaman Gatot D Sulistiyanto (selanjutnya disebut Gatot) karena memang telah direncanakan sebelumnya. tidak lain adalah untuk mendiskusikan tentang tanggapan atau testimoni serta kritik dan saran tentang musik M.I.G.I. diskusi dimulai dengan me nyeruput segelas teh yang disuguhkan gatot, dan memutarkan salah satu lagu milik grup indonesia yang sekarang saya telah lupa namanya hehehehe..... setelah mendengarkan dengan seksama, gatot pun berujar "....musiknya sangat sepele dan sangat mudah untuk di dengarkan, tapi ada sesuatu yang menarik, salah satunya adalah instrumentasinya..... hal itu yang telah dilupakan oleh para musisi pop pada saat ini, di sinilah proses kreatif grup tersebut dapat tertangkap...". setelah mendengar lagu dari entah siapa tersebut, mulailah kami mendengarkan lagu M.I.G.I
1per1 dengan teknik mendengarkan musik pop hehehe, yaitu asal lewat, sukur2 ada yang nyangkut hahahaha..... beberapa lagu yang langsung dapat komen adalah: MENANTI, "...musiknya punya kekuatan dramaturgi alias memiliki makna bahasa (bukan bercerita lho...), ada tensi yang bermain dalam MENANTI (oh ya, bahasannya musik bukan lirik). yang berikutnya adalah MAAFKANLAH KASIH, "...nuansa musik jepang (pop) sangat terasa, yaitu adanya impulsif (beat nya), dalam musik Jepang (pop) itu digunakan untuk mempertahankan tensi musik, dan akhirnya itu menjadi karakter mereka". impulsif berasal dari kata pulse, yang kemudian artinya adalah memberikan tekanan yang unpredictable (kesan). Lagu berikutnya adalah BUNGA, ga terlalu banyak komen dalam lagu ini "...karakter bass nya kuat & ada rasa Mr.BIG (wakwawwww....), padahal aku ga bilang kalo itu yang bikin mamo.
aku juga ga tanya & diem aja, karena dah tau kalo yang bikin emang adiknya Paul gilbert seh hehehehehe.... Lagu trakhir yang dikomentari adalah RASA INI, "... idenya lumayan..." bertanyalah aku kepadanya "...yang lumayan apanya?.." gatot pun menjawab "...ada poliritmik yang menjadikan berkesan ada teknik canon (susul menyusul) & coda nya menarik karena masih menggunakan motif yang muncul sebelumnya tapi menggunakan ritardando (tempo turun perlahan). setelah itu ga ada yang dikomentari lagi karena emang cuman di denger sekilas (blon jadi pendengar aktif), dan komen diatas adalah hasil dari beberapa point yang sempet nyangkut.
setelah abis smua track kami dengarkan muncul lah beberapa kritik dan saran yang keluar dari alat makannya gatot...:)
oya, gatot sempet nanya proses kreatif M.I.G.I, hehehe aku agak bingung jawab nya karena aku ga terlibat langsung, jadi mohon maaf kalo aku salah jawab. aku jawab proses kreatifnya ya tiap orang bikin melodi dan lirik kemudian aransemennya di keroyok bareng2, dan kebanyakan melodi dulu baru lirik (dia maklum sambil manggut2 "...maklum...instrumentalis...
Pertama adalah, hati2 dengan progresi akor yang sangat umum (di beberapa lagu M.I.G.I itu terjadi), itu akan menjadikan kejenuhan musikal.
kedua, lirik terlalu formal dan biasa2 aja (tapi itu dimaklumi dia, karena personil M.I.G.I adalah para instrumentalis). saran nya adalah, cobalah mengadopsi puisi atau karya sastra dari para sastrawan dan di kemas dalam pop.
ketiga, perbesar kacamata baca kita, misal: cari dan lihat kejenuhan pasar. gatot memberikan contoh: Dewa19 berhasil mencari celah pada kemunculan pertamanya, pada waktu itu terjadi kejenuhan era betharia sonata(hihihi)yang notabene melankolis, dan
dewa membuat karya yang tetap berbau melankolis tetapi kental dengan surabaya rock band nya. pada waktu itu dia mengadopsi TOTO.
karya kita akan menarik apabila dapat di urai dan di analisa sampai ke hal yang terkecil. musik di indonesia sekarang menurut gatot seperti kolam renang, ketika kita nyebur yang ada hanya air, penuh tapi ga ada bedanya. harus menjadi hawa panas di dalam air agar yang nyebur bisa terperanjat.(ngomong apaan nie ya?). setelah denger ungkapan itu aku trus flashback waktu sekolah dan sedikit inget, pada masa lalu setiap lahirnya komponis atau genre baru dalam musik, pasti ada koneksitas dengan bidang lain, misalnya sejarah, seni rupa, ekonomi, politik dan lain2. dari koneksitas tersebut akhirnya suatu karya pada jaman itu bisa dibedah secara musikal maupun non musikal yang mempengaruhinya. mungkin agak repot untuk mikir2 bgituan, tapi itu realita yang terjadi pada kreator2 yang me legenda, dan itu bisa jadi salah satu strategi alternatif kita untuk menghadapi pasar yang lagi bodo. kebetulan hal tersebut udah di lupain oleh kebanyakan band pop sekarang(indonesia).
saran berikutnya adalah, mulailah berfikir kesenimanan(?), misal, dengan melakukan riset (apa yang terjadi dalam masyarakat kita, kondisi sosial, ekonomi, psikologi dan macem2nya). ciptakan metode kreatif, misal, me reinterpretasikan karya (karya puisi dari salah satu sastrawan kita reinterpretasi atau dibahasakan ulang dengan musik dan membuat bahasa baru)
..Mumet.. dan salah satu hal menarik dari saran gatot adalah, mulalilah mencari kekuatan budaya, dengan cara ber interaksi dengan para seniman bidang lain, dari situ kita akan mampu memberikan wacana sekaligus mempunyai kekuatan pasar.
salah satu contoh adalah LETTO, vokalisnya cerdas dalam hal lirik, dan dia memiliki lingkungan budaya (secara bapaknya si cak nun...). waktu aku konser di gamelan festival tnyata LETTO juga ikutan (kok bisa?), itu menjadi pertanyaan, apa relevansi nya? itu yang blon ku tanyain (hehehe lupa), yang pasti di situ ada sesuatu, minimal karena hubungan pertemanan dengan panitia...:).
contoh berikutnya adalah iwan fals, pada waktu itu ada beberapa musisi yang terkenal, antara lain iwan fals, ebiet GAD, franky silatlidah, dan beberapa yg aku lupa. dari beberapa musisi diatas siapa yang paling menonjol? smua nya punya karakter dan kuat, siapa yang ga tau ebiet. tapi iwan fals mampu memperoleh popularitas, materi, dll, tapi yang paling penting adalah iwan fals mampu berada dekat dengan publik (populis, materi dan tetekbengeknya cuman efek). mengapa? selain tema besar yang di usungnya (KRITIK SOSIAL), kalo di denger2 lagi musiknya pada waktu itu sangat difikir secara matang, dapat di lihat dari instrumentasi (eksplorasi penggabungan instrumen untuk memperoleh timbre baru yang menarik), dan ternyata itu diperoleh iwan fals dari pengalaman Nyantrik alias belajar di sanggarnya WS. Rendra untuk beberapa lama. proses berkesenian yang dialami nya dan bertemunya dia dengan seniman bidang lain ataupun tukang becak atau siapapun disana mampu menjadikan dia berkarakter, dan pada akhirnya, meskipun musiknya di buat dengan berbagai genre dengan musisi pendukung yang ber beda, tetep aja publik akan tau kalo itu iwan fals, karena dia jujur(waktu itu lho...).
contoh lainnya terjadi waktu the upstair ato siapa itu yang bawa nuansa 70-an lagi? aku lupa, pokoknya di jogja waktu itu mereka menjadi idola para anak senirupa di kampusku, ada apa? ternyata trend yang terjadi dalam dunia senirupa adalah retro style (MTV banget; liat bumper2 & media publikasi dan bahasa visual nya). demikian salah satu contoh kekuatan budaya pada proses kreatif berkesenian. memang mungkin kalo di dengerin agak sedikit berlebihan. tapi hal tersebut bukan tidak mungkin dilakukan, karena sekarang proses kreatif seni dapat ssangat mungkin dilakukan dalam musik pop, karena pop juga merupakan ekspresi (camkan itu hehehe). ga harus susah di dengerin, tapi ada sesuatu energi yang bisa menarik publik (bukan kontroversi gosip).
ada hal yang jarang muncul lagi sekarang yaitu, munculnya individual character dalam sebuah band. jaman dulu hampir setiap personel band yang bagus punya karakter dan kemunculannya dalam lagu pun terlihat jelas (misalnya ada solo2 atau filler yang sedikit nyentil atau bahkan skilfull). mungkin itu bisa menjadi alternatif buat kita yang notabene instrumentalis dan kalo emang males ngulik lirik hehehehe....
Catatan: terjadi kejenuhan dalam musik pop indonesia karena ga da yang bener2 original. saran lagi, kalo mo pake loops mending nyampling sendiri biar orisinal.
Begitulah kira2 yang terekam dalam ingatan saya. sebagai catatan, bahwa smua komen, kritik&saran diatas tidak bersifat mutlak terutama dalam kaidah industri musik pop. so itu hanya sekedar referensi jika diperlukan dan kritik saran dari orang musik (musikolog) non industri. meskipun berusaha memakai kacamata industri, tapi hasilnya ya tetep bgini ini heehehehe...dan untuk review tentang M.I.G.I harap sabar, karena masih dalam proses analisa lebih lanjut (pendengar aktif) demi kebutuhan mencari sesuatu dari M.I.G.I yang cukup kuat untuk dijadikan bahan kajian ataupun referensi untuk menciptakan isu dan mem blow-up M.I.G.I.
oya, konsep noisy pop menarik buat gatot (meskipun katanya itu bukan hal yang baru), tapi kita harus mampu menerjemahkan nya ke bahasa publik, itu memang agak sedikit susah melihat masyarakat kita yang gagap musik. tapi itu harus di coba, karenaini menarik. dan ini bisa jadi isu (untuk tahapan awal masih isu, untuk menjadi wacana di butuhkan minimal 5 tahun).
Demikian yang terjadi malam itu, kepala saya akhirnya penuh dan akhirnya beberapa informasi tumpah berceceran ga tau kemana. untuk membahasakan ulang kepada anda2 sekalian pun agak belepotan, pokok e mumet tenan. akhirnya kami pun kabur dari obrolan panjang tadi dan segelas teh gula batu di jalan Gamelan menjadi penutup obrolan kami malam itu.
beberapa hari kedepan kami akan berjumpa kembali untuk review yang lebih panjang. jika ada pertanyaan yang ingin dilontarkan silahkan sms saya. karena mungkin untuk beberapa hari ke depan saya ga bisa ke warnet karena........
udah ya, terima kasih atas perhatiannya, NGUANTUK TENAN!!!!!!!!
pareng.
bayu pras
0 comments:
Posting Komentar